-->

Kisah Inspirasi WARISAN AGUS




WARISAN AGUS


Orang biasa memanggil dia si Agus, berumur sekitar 28 tahun, seusia denganku, dia tinggal di kampung atas dekat dengan perumahanku, ayahnya sudah lama meninggal, Agus tinggal bersama dengan ibu dan seorang adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMP.

Sejak kecil Agus mempunyai penyakit asma dan flek paru-paru, makanya dia agak sulit mendapatkan pekerjaan, karena seringkali penyakitnya ini kambuh, sampai sekarang. Dia bertubuh kurus tinggi dan agak bungkuk, Pekerjaan sehari-harinya adalah mengumpulkan barang-barang bekas seperti kardus, buku-buku tak terpakai, koran bekas dan aneka botol plastik, kemudian barang-barang tersebut dia jual ke penadah. Ibunya bekerja sebagai tukang cuci keliling di komplek perumahan kami.

Agus memiliki pembawaan yang riang, dia sering kumpul dengan anak-anak pengamen jalanan sekitar sini, kemudian bermain bersama dengan mereka. Kadang dia sering membeli kue-kue atau permen di warung, dan membagi-bagikannya kepada mereka. Para tetanggaku juga senang .ngobrol dengan Agus, Selalu ada saja celotehnya yang membuat orang lain terhibur, padahal Agus hidup dalam kekurangan, dia juga salah satu orang yang putus sekolah di tengah jalan.

Setiap sore sehabis mengumpulkan barang bekas, Agus selalu lewat di depan rumahku, biasanya aku selalu memanggilnya, kalau ada makanan di rumah, aku pasti memberinya, juga kalau ada buku-buku dan koran bekas pasti sudah aku kumpulkan buat si Agus.

"Waduuuh....enak banget Ron donatnya, jarang-jarang nih aku makan seenak ini" Kata Agus dengan gaya khasnya, kebetulan sepulang kerja tadi, aku memang mampir ke mall untuk beli donat kesukaan anak-anakku, tak lupa aku sisihkan beberapa untuk si Agus.

"Nanti sisanya kamu bawa aja ya Gus, buat ibu dan adikmu...." Si Agus tampak senang, dengan gaya polosnya dia mengacungkan jempolnya. Aku terhibur juga kalau lagi ngobrol dengan si Agus ini, segala masalah kantor yang sering membuat kepalaku pusing tujuh keliling seolah sirna oleh candaan si Agus. Aku yang kelihatan lebih mapan dan tak kekurangan seringkali sukar untuk tersenyum, apalagi tertawa lepas seperti si Agus. Banyak beban hidup yang sangat berat yang aku rasakan, bahkan uang dan kenyamananpun tak bisa menjamin kebahagiaanku. Tetapi si Agus....dia sangat bisa menjalani hidup dengan tanpa beban di wajahnya, hidup kekurangan dengan penyakit bawaan tidak mempengaruhi keceriaannya.

"Muka jangan di tekuk gitu Ron, nanti orang pada takut, masa orang ganteng galau..." Canda Agus, aku hanya tersenyum kecut.

"Hidup kalau mau di keluhin mah banyak, kurang inilah kurang itulah, tapi kalau mau di syukurin juga banyak, syukur masih bisa napas, syukur masih bisa makan....masih banyaklah nggak kehitung, semua Tuhan udah kasih sesuai porsinya masing-masing, ngeluh juga nggak bikin keadaan berubah kan..." Nasehat Agus. Aku benar-benar malu dengan si Agus ini, kata-katanya begitu bijak dan dalam, 

Sudah beberapa sore aku tidak melihat si Agus, kebetulan aku memang ada tambahan pekerjaan. Aku berjalan ketempat biasa anak-anak pengamen kumpul, agak sepi, biasanya ditempat ini selalu rame.

"Dek, kenal si Agus kan, dia kemana ya kok udah gak kelihatan beberapa hari?" Tanyaku pada salah satu anak pengamen yang kebetulan ada di sini.

"Om nggak tau ya... dia baru meninggal kemarin sore, penyakitnya kambuh, katanya sih udah parah..." Bagai di sambar petir aku melotot tidak percaya. Agus meninggal? dua hari yang lalu dia masih mengobrol di teras rumahku. Spontan ku tarik tangan anak itu.

"Ayo Dek, antar om ke sana sekarang ya..."

Sebuah rumah sangat sederhana terpampang dihadapanku, seorang wanita separuh baya dan anak perempuan disampingnya duduk di lantai yang beralaskan tikar, sesekali wanita itu mengusap air matanya. Perlahan aku mendekati sambil menyalaminya dan memberikan amplop kepada wanita itu, dia adalah ibu dan adik si Agus.

"Saya Roni bu, teman Agus, saya turut berdukacita sedalam-dalamnya..." Ucapku perlahan. Wanita itu menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Trima kasih Nak Roni, sebenarnya ibu sudah ikhlas si Agus pergi, dari kecil dia udah sakit-sakitan, tapi yang bikin ibu sedih adalah ini..." Tangis Ibunya agus sambil menunjuk sesuatu di depannya, itu adalah sebuah peti kayu berukuran sedang yang di bungkus sebuah kain.

"Sebelum meninggal Agus menyerahkan ini pada ibu, ternyata selama ini dia selalu menyisihkan pendapatannya di kotak ini, dia nggak pernah pake untuk dirinya sendiri, ibu juga baru tau...bertahun-tahun dia kerja ngumpulin barang bekas...ya ini hasilnya...ibu sangat sedih.." Kemudian sambil masih menangis, Ibunya Agus membuka peti itu, mataku terbelalak, uang dalam peti itu banyak sekali, Uang kertas lusuh yang dugulung sangat banyak dan hampir penuh, ada dua ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan...tapi tidak ada 50 ribuan atau 100 ribuan, aku sadar Agus hanya pengumpul barang bekas, jadi upahnya tidak seberapa. Tapi dia bisa memberi Warisan sebesar ini untuk keluarganya.... betapa besarnya hati si Agus.

Sepanjang perjalanan pulang aku merenung, aku juga dapat warisan dari si Agus ini, yaitu kesederhanaan dan Nasehat dari si Agus yaitu hidup harus selalu penuh syukur. Tanpa sadar air mataku jatuh.

'Trima kasih Gus...selamat jalan...kamu sudah tidak sakit lagi di sana...' Bisikku dalam hati.