-->

IBU

Saat aku kecil, ibu adalah malaikat tanpa sayap yang aku kenal, ibu adalah sosok yang tidak terkenal namun sangat membekas dalam hatiku. Dalam sehari, puluhan kali aku selalu memanggil ibu...ibu...dan ibu... dan dengan lembut penuh kasih, ibu selalu datang tepat waktu saat aku butuhkan.

Ibu mengumpulkan uang dengan hasil berjualan kue, dia menabung untuk pendidikanku, keperluanku, dan masa depanku. Seolah ibu mengabaikan dirinya sendiri, hanya aku dan aku yang ada dipikirannya... Ibu begitu hemat, sampai setahun sekalipun belum tentu kami membeli baju baru. Namun dia selalu mengajariku bersyukur atas apa yang kami miliki saat ini... Ibu begitu tangguh, dalam usahanya yang kadang jatuh bangun, tak pernah aku mendengar ibu mengeluh sedikitpun, selalu saja ada persediaan senyuman di wajahnya.

Suatu hari, teman-temanku di sekitar rumah bermain sepeda, mereka begitu gembiranya bermain sepeda, aku hanya melihatnya dari teras rumah, dengan pandangan iri, membayangkan aku juga ingin berbaur dengan mereka.

Ibu seolah tau yang aku rasakan, dia hanya tersenyum sambil membelai rambutku, dia memelukku sambil berbisik, "Sabar ya sayang, nanti ibu pasti belikan..." Matanya berbinar saat melihat aku tersenyum, Ibu menghapus air mataku.

Malam itu secara tak disengaja, aku melihat ibu memecahkan celengan yang selama ini ia kumpulkan, padahal aku tau, uang itu untuk bayaran sekolahku bulan ini, namun karena keinginanku yang begitu besar untuk memiliki sepeda, aku biarkan Ibu berbuat demikian.

Keesokan harinya ibu mengajakku ke pasar loak, ibu membelikan aku sebuah sepeda bekas, ya.. sepeda bekas. Saat itu aku begitu marah pada ibu, sepeda bekas pilihan ibu jauh lebih jelek dari pada milik teman-temanku, impianku meleset jauh, aku begitu kecewa...

"Ibu hanya mampu membelikanmu sepeda ini Nak..." Jelas Ibu ketika aku menangis menolaknya. Akhirnya ibu membelikan aku sepeda bekas namun yang masih bagus, dan harganyapun lebih mahal. Saat itu aku begitu puas, walaupun bekas, masih mulus seperti baru dan aku bisa memamerkannya di depan teman-temanku.

Namun karena sepeda itu, akupun tidak bisa bayaran sekolah karena tabungan ibu sudah habis, aku merengek-rengek pada ibu minta bayaran, ibu dengan terpaksa meminjam uang ke tetanggaku, ibu berhutang demi aku.

Puluhan tahun telah lewat, aku pun telah menjadi seorang ibu, ibuku yang dulu sudah tua renta, namun pancaran kasih diwajahnya tidak pernah pudar, selalu ada persediaan senyum diwajahnya. Sekarang aku mengerti, mengapa dulu ibu berbuat demikian, berkorban demi buah hatinya...

Sekarang aku tau apa itu pengorbanan, cinta kasih ibu akan selalu bersinar tak lekang oleh waktu, karena aku begitu percaya, pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia-sia. Ibu akan gigih menjadikan anaknya pribadi yang mandiri, dan pemberian seorang ibu adalah pemberian yang terbaik. Terima kasih Ibu.***WP