-->

Kisah Inspirasi SEBUTIR NASI BERHARGA

Kisah Inspirasi

SEBUTIR NASI BERHARGA






Seharian ini aku agak kesal, karena di pasar harga bahan pokok makanan naik, berimbas pada isi dompet yang mulai menipis. Uang belanja juga sudah hampir habis, di tambah anak-anak yang selalu memilih makanan, Tidak semua jenis makanan di sukai oleh anak-anakku.

Jujur saja aku juga demikian, seringkali aku membuang makanan yang aku rasa sudah tidak enak, atau makanan yang sudah dingin. Apalagi sampai menginap, aku paling tidak suka. Aku selalu menyukai makanan yang enak dan baru. Bahkan saat makan diluar pun, kalau tidak sesuai selera, pasti aku tidak akan memakannya. Hal mana membuat anak-anakku juga sama seperti aku, mereka selalu ingin makan yang enak, yang sesuai selera mereka. Kalau ada makanan yang mereka tidak suka, mereka tidak akan makan, dan meminta makanan yang lain.

Siang itu cuaca sangat panas, hawa panasnya sampai masuk kedalam rumah. Setelah memberi makan anak-anakku, kemudian aku mulai menidurkan mereka. Seperti biasa, selalu ada saja sisa makanan di piring mereka, akhirnya dengan terpaksa aku membuangnya kembali.

Dari dapur aku mendengar suara pintu gerbang di ketuk-ketuk. Siapa siang bolong begini bertamu, pikirku. Segera setengah berlari aku membuka pintu gerbang rumahku. Di depan gerbang aku melihat seorang kakek tua berdiri, kira-kira usianya 70 tahunan. Pakaiannya kumal, topinya juga sudah sangat usang, tubuhnya begitu kurus dan dia kelihatan begitu renta. Dia memanggul sebuah karung besar di bahunya, isinya ternyata botol plastik bekas, rupanya kakek ini adalah seorang pemulung.

"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanyaku perlahan.
"Ibu punya sisa makanan kemarin? kalau ada boleh saya minta? saya lapar dari semalam belum makan, makanan yang hampir basi juga nggak apa-apa kok, yang penting saya bisa makan..." Jawab kakek itu ragu-ragu. Saya agak kaget.
"Lho... makanan baru juga saya ada kok pak, kenapa harus makanan kemarin? rasanya kan nggak enak lho pak..." Kataku. si kakek tersenyum.
"Bu, bagi saya makanan sekarang atau kemarin sama saja, sama-sama bikin saya kenyang.....masih ada yang bisa dimakan saya sudah bersyukur, saya ada uang sedikit dari hasil mulung itu buat cucu saya, masa depannya masih panjang, sedangkan saya, sudah bisa makan saja bersukur, yang penting masih bisa hidup" Jelas si Kakek. Tiba-tiba mataku menjadi panas, dada rasanya begitu sesak. Aku ingat bagaimana dengan gampangnya aku membuang makanan sisa atau makanan yang tidak disuka, melihat kakek ini aku menyadari betapa berharganya sebuah makanan, enak atau tidak enak rasanya.
"Sebentar ya Pak, saya ambilkan dulu" Segera aku berlari kedalam rumah karena sudah tidak tahan air mataku itu mengalir. Segera ku bungkus makanan yang lumayan banyak, aku bertekad akan kuajari anak-anakku untuk menghargai setiap makanan apapun jenisnya, karena di luar sana banyak orang-orang yang kelaparan, yang menganggap makanan adalah suatu anugrah. 

"Trima kasih banyak bu, bukan cuma saya yang kenyang, cucu saya juga kenyang" 
"Kalo lapar datanglah kesini ya Pak....ajak cucunya juga sekalian" Tawarku. Si Kakek tersenyum dan kemudian bergegas pergi meninggalkan rumahku.

Sehari dua hari, sebulan dua bulan, si Kakek sudah tidak pernah datang lagi kerumahku. Namun satu pelajaran berharga sudah kudapat dari sang Kakek.
"Terima Kasih Pak" Bisikku dalam hati.