PENGARUH PERKATAAN POSITIF TERHADAP PERKEMBANGAN DAN KEPRIBADIAN ANAK

Seorang anak yang baru dilahirkan adalah seperti tanah, tanah hanyalah tanah,tergantung dari apa yang akan di tanamnya nanti. Setiap anak memiliki sifat bawaan lahir. Misalnya, ceria, pendiam atau masih banyak yang lain.
Lingkungan disekitar anak juga berpengaruh besar terhadap berkembangan anak, contohnya seorang anak yang dibesarkan di hutan oleh seekor kera, akan bertingkah sama seperti kera walaupun dia adalah anak manusia.
Demikian juga didalam lingkungan keluarga. Dalam hal ini, peranan orang tua merupakan sumber dari perkembangan anak. Orang tua bagaimana, si anak juga akan menjadi seperti apa yang dilihatnya.
Anak yang dibesarkan dengan keluarga yang kurang harmonis, lebih cenderung menjadi anak yang menutup diri, labil, dan mudah emosi. Mengapa demikian? Karena seorang anak berkembang melalui apa yang dilihatnya. Ketika anak sering melihat pertengkaran orang tua, terbiasa mendengar perkataan yang kasar. Maka otomatis si anak sebagai peniru yang baik akan dengan cepat mempengaruhinya.
Ada contoh kecil tentang putra saya, sejak kecil saya selalu memanggil dia dengan sebutan ganteng atau pinter, sampai sekarang dia selalu percaya diri kalau dia itu ganteng dan pintar. Jadi, perkataan yang positif dan membangun, akan terus berpengaruh sampai mereka para anak-anak berusia dewasa. Ini sangat menakjubkan.
Namun, jika seorang anak sering menjadi korban ketidak harmonisan orang tua, sering menerima bentakan atau perkataan yang kasar, sampai dewasa sang anak akan kurang percaya diri, merasa diri kurang mendapat penghargaan. Perkataan negative dan kasar orang tua terhadap anak seperti sebuah pisau tajam yang menusuk sang anak, secara jasmani mungkin tidak terlihat, namun secara mental mereka sudah terluka. Jadi, pilihan tergantung pada orang tua sekarang, mau menjadi anak seperti apa, tergantung sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak.
Baru-baru ini di social media, heboh dengan kasus bunuh diri seorang mahasiswa. Dia bukanlah mahasiswa yang bodoh, untuk otak kepintaran tidak masalah, namun lihatlah psikisnya, batinnya terluka. Ada masalah dengan orang tuanya, dia juga bukan orang miskin. Tiap bulan selalu ada kiriman uang yang jumlahnya lebih dari cukup. Tetapi mengapa bisa terjadi demikian? Jawabannya adalah karena hubungan yang tidak harmonis. Orang tua terlalu sibuk dengan dunianya, pekerjaannya, hartanya. Sampai tidak sadar bahwa harta yang sesungguhnya yaitu anak sudah menjadi pribadi yang terluka. Sejak kecil mungkin selalu tertutup dan kelihatan baik-baik saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi lihatlah puncaknya sekarang. Setelah dewasa, luka itu sudah tidak bisa di bendung lagi.
Melihat contoh kasus di atas, kiranya para orang tua lebih bijaksana untuk merawat dan mendidik buah hati. Jangan sampai anak kita penjadi pribadi yang terluka, yang akan merusak perkembangan dan kepribadiannya. Masa depan anak tergantung dari kita para orang tua. Kita mau menanam apa di tanah yang sudah Tuhan sediakan itu.