KEAJAIBAN MEMBERI
Seorang anak perempuan, sebut saja Tia, berusia kira-kira 8 tahunan, ia membongkar celengannya yang sudah hampir penuh, yang sudah selama setahun ini ia menabung disitu. Setiap uang jajan yang dia terima dari ibunya selalu di sisihkannya untuk di tabung. Tia sangat ingin membeli sebuah sepatu baru yang bagus dan kuat bahannya, yang dulu pernah dilihatnya di sebuah toko. Sepatu lamanya yang setiap hari ia pakai ke sekolah sudah sangat usang, beberapa kali sudah di sol, namun karena bahannya tidak kuat, akhirnya robek juga.
"Ini sudah saatnya sepatu impianku terwujud" Gumamnya dalam hati. Matanya nampak berbinar. Dia kumpulkan uang recehan dari celengannya itu, lalu dimasukannya kedalam sebuah tas kecil. Hari ini dia berencana untuk membeli sepatu itu bersama ibunya.
Di keramaian pasar, Tia dan ibunya nampak berjalan penuh riang menuju sebuah Toko sepatu yang terbesar di tempat itu, yang terletak persis di pertigaan lampu merah. Sudah terbayang bagaimana ia mengenakan sepatu baru itu, pasti dia kelihatan cantik.
"Ayo pilih yang mana Nak, semua bagus bagus" Kata ibunya. Tia hanya tersenyum sambil berjalan mengelilingi semua rak sepatu, semua sepatu disitu memang bagus-bagus, makanya Tia agak bingung untuk memilihnya.
Tiba-tiba Tia melihat di pinggir jalan depan Toko sepatu, dua orang anak kecil, sepertinya kakak beradik sedang duduk membelakangi toko, sambil saling merangkul. Sambil memandang ibunya Tia berkata, "Bu, aku boleh keluar sebentar ya, ibu tunggu sini dulu, cuma di depan toko aja, setelah itu aku cepat kembali" Sang ibu tersenyum sambil mengangguk. "Jangan lama-lama ya..." Sahut ibunya.
Dengan segera Tia membuka pintu toko itu, hawa panas langsung menyengat tubuhnya, karena di dalam toko suasana sangat sejuk karena ada AC. Tia memandangi kedua anak itu, rupanya dia mengenali salah satunya.
"Hai Toni, kenapa kamu duduk disitu panas-panas begini?" Tanya Tia. Anak laki-laki yang besar yang bernama Toni itu, ternyata adalah teman sekelasnya. Toni nampak menunduk malu setelah melihat Tia.
"Aku dan adikku mau jual jam tangan ini di pasar, tapi sudah dari tadi keliling belum ada yang mau beli..." Jawab Toni pelan.
"Kenapa kamu jual jam tangan itu?" Tanya Tia polos.
"Kami lagi butuh uang untuk beli makanan, ayahku kan sudah nggak bekerja lagi sejak seminggu, dan sekarang dia lagi sakit, ibuku yang merawatnya, semua barang dirumah sudah dijual dari kemarin, yang tersisa cuma jam tangan ini, ayahku ku juga butuh uang untuk ongkos cari kerja lagi" Tia tertegun mendengar penjelasan Toni. Tiba-tiba ibunya Tia keluar dari toko sepatu itu.
"Kamu ngapain disini Tia, kok lama amat... katanya cuma sebentar" Tegur ibunya.
"Ibu, uang yang untuk beli sepatu itu adalah uangku kan?" Tanya Tia. Ibunya mengangguk.
"Itu berarti aku punya hak kan atas uang itu, mau di pakai apa saja tidak masalah kan?" Kata Tia meyakinkan. Ibunya kembali mengangguk.
"Aku nggak jadi beli sepatu baru bu, aku mau beli jam tangan aja..."
"Lho...kenapa?"
"Dia Toni bu teman sekelas aku, dia mau jual jam tangannya, karena ayahnya sudah nggak kerja lagi, dan mereka butuh uang untuk makan, jadi aku mau beli jam tangan Toni" Ibunya kaget.
"Lalu sepatumu..."
"Sepatu lamaku masih bisa di pake kok bu, lagian kan sekarang sudah mau liburan kenaikan kelas, jadi masih banyak waktu untuk memperbaikinya lagi..." Jawabnya polos. Ibunya hanya termangu mendengar perkataan anaknya itu. lalu dengan segera mengangguk.
"Iya Tia, kalo kamu ikhlas, berikan saja uangmu buat Toni, mungkin dia lebih membutuhkannya" Tia tersenyum senang. Segera ia menghampiri Toni dan adiknya yang hampir beranjak pergi.
"Toni, sini jam tanganmu aku beli!" Seru Tia. Toni tampak ragu-ragu, namun wajahnya kelihatan senang.
"Trima kasih Tia,,,"
Dengan cepat Tia mengeluarkan bungkusan uang yang ada di dalam tas kecilnya, kemudian diberikannya pada Toni. Toni membuka bungkusan plastik itu.
"Ini banyak sekali Tia, harga jam tanganku nggak semahal ini"
"Jam ini mau aku kasih buat ayahku, masa kasih jam murahan...jam kamu memang segitu harganya, udah cepat kamu pulang, pasti keluargamu menunggumu"
Hari sudah menjelang sore saat Tia dan ibunya berjalan pulang kerumahnya. Dalam perjalanan ibunya bertanya.
"Kamu nggak nyesel Nak, nggak jadi beli sepatu baru?"
"Nggak bu, makanan itu lebih penting dari sepatu, walaupun jelek aku masih bisa jalan dan tetap sehat, tapi kalau nggak bisa makan kan bisa sakit, kan kasihan bu..."
"Kenapa kamu nggak kasih aja uangnya? kenapa harus beli jam tangannya?"
"Mereka bukan pengemis bu, mereka jual jam tangan, bukan minta uang" Mata ibunya Tia berkaca-kaca menahan haru.
"Ibu bangga punya anak seperti kamu"
Ketika sampai di depan pintu rumah mereka, ternyata Ayah Tia sudah pulang, sambil tersenyum ayah Tia membukakan pintu, sambil membawa sebuah bungkusan.
"Tia, ini ayah kasih hadiah buat kamu, kerena kemarin kamu juara kelas, dan ayah juga baru dapat gaji"
Dengan cepat Tia membuka bungkusan kotak itu, setelah dibuka, betapa tekejutnya dia.
"Ayah, ini kan sepatu baru yang aku impi-impikan? Trimakasih ayah"
"Iya, tadi ayah mampir ke toko sepatu yang dipertigaan lampu merah itu, lihat sepatu ini ayah langsung ingat kamu"
Tia dan Ibunya saling berpandangan. Tuhan sungguh-sungguh memperhitungkan apa yang sudah dilakukan oleh Tia. Siapa yang memberi tidak akan berkekurangan.