MENJADI PENDENGAR YANG BAIK
Dalam suatu hubungan keluarga, yang terdapat suami, istri dan anak-anak, tentunya akan menjadi harmonis dan bahagia apabila didalamnya memiliki komunikasi yang baik. Setiap anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang sama, baik ayah, ibu dan anak-anak.
Pertama-tama, hubungan yang baik diawali dengan perasaan saling. Saling mengasihi, saling menghargai, saling menghormati, saling berbagi dan saling memahami. Ini adalah suatu bentuk toleransi dalam keluarga.
Namun, seringkali banyak kita temui kesalah pahaman dalam rumah tangga. Biasanya suami memiliki otoritas yang paling tinggi dalam keluarga, karena dia adalah seorang kepala keluarga tentunya. Sebagai kepala keluarga, kebanyakan suami yang memegang kendali, misalnya dalam suatu pengambilan keputusan, suami yang berhak mengambil keputusan, itu berarti pendapatnyalah yang paling dominan.
Akan tetapi keluarga adalah suatu kesatuan, dimana setiap anggota keluarga perlu saling menopang dan melengkapi. Seorang suami dan ayah harus bisa menjadi pendengar yang baik, mendengarkan keluhan dan masukan dari istri dan anak-anaknya. Dengan demikian akan muncul suatu keterbukaan.
Seringkali percekcokan yang terjadi dalam suatu rumah tangga disebabkan tidak adanya komunikasi yang baik, masing-masing hanya mau banyak berbicara, berargumen, mengeluarkan pendapat, tanpa ada yang diam untuk saling mendengarkan. Tiap-tiap orang menjadi hakim bagi orang lain, berbicara dan menyalahkan itu mudah, namun menjadi pendengar yang baik itu sulit, melalui mendengar kita bisa memahami, merasakan dan memulihkan.
Setiap anggota keluarga mempunyai hak untuk didengarkan dan mengeluarkan pendapat, jadi hak yang demikian harus kita perhatikan. Anak-anak juga membutuhkan tempat dimana mereka bisa dengan leluasa mencurahkan isi hati mereka. Karena itu orang tua harus jadi pendengar yang baik buat anak-anak. Suami dan istripun juga demikian, harus saling mendengarkan satu sama lain.
Mengapa banyak orang yang mencari teman, psikiater, atau orang lain hanya untuk bisa mencurahkan uneg-unegnya? karena dia merasa sudah tidak ada orang yang mau mendengarkannya. Ini sangat berbahaya. kalau orang sudah keluar dari keluarganya untuk bercerita kepada orang lain, apalagi sekarang banyak sosial media yang bisa kapanpun untuk membuat status, hanya untuk didengarkan, maka fungsi keluarga sudah tidak terlihat lagi.
Hendaklah kita sama-sama belajar untuk mendengarkan setiap keluhan anggota keluarga kita, baik suami, istri atau anak-anak. Sehingga akan tercipta suatu keterbukaan, dan dengan demikian keluarga kita akan menjadi keluarga yang berkualitas, dimana setiap anggota keluarga mendapat haknya masing-masing. Berikanlah telinga untuk pasangan dan buah hati kita. Itulah wujud dari cinta kasih yang sesungguhnya, menjadi pendengar yang baik.