-->

Kisah Inspirasi: AYAH


AYAH



Sebuah sepatu usang, terletak di depan pintu rumah, yang setiap hari selalu dipakai ayahku bekerja memotong kayu di sebuah pabrik pemotongan kayu. Ayah tidak pernah mengganti sepatu itu, walaupun sudah beberapa kali aku dan adik-adikku mengganti sepatu karena telah rusak, namun ayah selalu memperbaiki sepatunya sendiri, entah itu di lem ataupun di jahit. Ayah selalu mengatakan sepatu bukanlah kebutuhan yang utama, ia hanya sebagai teman bekerja saja.

Sejak ayah dan ibu menikah, ayah selalu melarang ibu untuk bekerja diluar, dengan alasan keberadaan ibu begitu penting dalam mengasuh dan merawat kami anak-anaknya, ayah ingin ibu menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi kami sekeluarga, biarlah hanya ayah yang bekerja mencari nafkah, karena memang itulah tugas utama seorang ayah.

Ayah selalu mengajak aku dan adik-adikku bermain di kala libur, mememani kami memancing, bermain bola, bahkan memasak di dapur. Bagi ayah, kami semua adalah hartanya dan kebahagiaannya. 

Waktu kami masih duduk di bangku SD, ayah pernah di PHK dari pekerjaannya, karena perusahaan tempat ayah bekerja sudah hampir bangkrut. Di depan kami, ayah tidak pernah menunjukkan wajah sedih ataupun kekuatirannya, dia selalu tersenyum dan mengatakan, besok ayah akan dapat pekerjaan yang baik, lebih baik dari sekarang. walaupun pada kenyataannya, kami tau bahwa ayah sudah dengan pontang-panting mencari pekerjaan, namun belum ada perusahaan yang memanggil ayah bekerja, sampai pada akhirnya dengan rela ayah berjualan mainan anak-anak yang dibuatnya sendiri, di terminal, stasiun kereta atau di tempat keramaian lainnya. Itu pun kadang ayah sering di kejar-kejar, karena dianggap sebagai pedagang liar.

Suatu malam, ayah pulang membawa 3 bungkus mie instan, ibu memasak mie instan itu untuk kami sekeluarga makan. Kemudian mie instan itu di bagi 5 piring, untuk ayah, ibu, aku dan kedua adikku. 

"Ayah sudah makan diluar, itu untuk kalian saja" Tolak ayah ketika ibu menyodorkan piring ayah. kami makan dengan lahapnya, sampai pada saat terakhir, ketika meja akan dibereskan ibu.
"Sini, biar ayah yang bereskan" cegah ayah. kemudian ayah membereskan meja lalu menuang kuah sisa mie instan itu ke mangkuk, lalu ia pergi kebelakang. Aku dan ibu mengikuti ayah diam-diam

Di belakang, ayah menambahkan nasi kedalam kuah sisa mie instan yang kami makan tadi, kemudian ayah memakan dengan lahapnya. Aku dan ibu saling berpandangan. Dari situ kami tau, ayah memang belum makan, dan ia sangat lapar. Lalu Aku dan ibupun menangis.

Di lain waktu, karena dapat uang lebih, ayah membeli ikan goreng, pada saat makan bersama, ayah mengatakan, bahwa ia hanya mau makan kepala ikan saja, dia tidak suka dagingnya. Kami berusaha membujuk ayah untuk mau makan dagingnya, namun ayah bersikeras tetap pada pendiriannya, dia hanya mau kepala ikan. Aku tau, ayah bukan tidak suka daging ikan, bagian yang terbaik selalu dia berikan pada kami, sedangkan ayah sendiri selalu mengambil bagian yang kami tidak mau....ayah sebegitu besarkah cintamu pada kami?

Sekarang, aku sudah menjadi seorang ayah dengan dua orang anak, teladan ayah pada saat aku masih kecil terus menjadi inspirasi dalam hidupku, Pengorbanan dan perjuangan ayah, juga cinta kasih ayah pada kami menjadi pelajaran hidup yang berharga buatku. Terima kasih ayah. Engkaulah teladan hidupku. Aku selalu teringat akan kuah mie instan dan kepala ikan yang mengantarku pada keberhasilan.