
Sepasang suami istri tinggal disebuah rumah yang berada dikota besar. Mereka baru saja pindah. Sang suami adalah tipe suami yang tidak pernah banyak berbicara, justru istrinyalah yang banyak bicara dan mengatur segala sesuatu sesuai dengan keinginan hatinya.
Sejak mereka pertama kali menikah, suaminya tidak pernah mengucapkan cinta terhadap istrinya, bahkan suaminya juga tidak pernah bersikap romantis seperti layaknya pengantin baru lainnya. Hal ini seringkali membuat sang istri bertanya-tanya, namun dia hanya memendamnya dalam hati.
Pada saat mereka pindah rumah, sang istri sedang mengandung dan akan melahirkan seorang bayi, suaminya selalu pulang lebih cepat dari kantor sejak istinya hamil, kemudian suaminya sibuk membelikan segala perlengkapan bayi, mulai dari tempat tidur bayi, pakaian bayi, bahkan susu untuk ibu hamil selalu tersedia dengan lengkap dirumahnya. Istrinya tentu saja merasa senang, namun lagi-lagi dia berpikir bahwa suaminya hanya melaksanakan tugasnya, bukan mencintainya, karena tidak pernah ada kata-kata cinta yang keluar dari mulut suaminya itu.
Ketika tiba saatnya sang istri akan melahirkan, dirumah sakit sang istri berharap suaminya selalu ada disisinya, membelai rambutnya, menguatkannya dengan perkataan-perkataan penuh cinta. Tapi pada kenyataannya, suaminya malah terus bekerja bahkan sampai larut malam.
Setahun setelah anak mereka lahir, sang istri kemudian jatuh sakit, ia berharap suaminya memperhatikan dia dan selalu ada disisinya, namun sekali lagi ia kecewa, suaminya hanya sibuk dengan anak mereka, dia memasak, mencuci pakaian, menyuapi anak mereka. Hanya sesekali dia menengok istrinya kekamar sambil membawakan makanan, kemudian mengambil baju kotor istrinya itu, lalu segera keluar kamar.
Setelah sang istri sembuh, iapun tidak tahan lagi dengan suaminya, lalu kemudian dia meminta untuk berpisah dengan suaminya itu. Wajah sang suami sangat terkejut, dia tidak menyangka bahwa istrinya akan minta berpisah dengannya. Lalu sang suami bertanya kepadanya.
“Apa yang membuat kamu ingin berpisah denganku?”
“Karena kamu tidak pernah mencintaiku…”
Sang suami lalu mengajak istrinya kekamar, kemudian mereka duduk disitu. Lalu sang suami mengambil foto pernikahan mereka yang terpasang didinding kamar, dan dia menghampiri istrinya.
“Sejak saya memutuskan untuk menikahimu, apakah saya akan menikahi dengan orang yang tidak saya cintai?” Sang istri menggeleng.
“Pada saat kamu akan melahirkan, dokter bilang kamu harus operasi karena bayinya terlilit tali pusar, aku sengaja mengambil lembur dikantor supaya dapat uang lebih untuk biaya persalinan, aku takut kamu menjadi kuatir karena kurang biaya, apapun aku kerjakan supaya kamu dan bayi kita selamat”
“Ketika kamu sakit, apakah kamu berpikir diusia anak kita yang masih setahun dia bisa menjaga dirinya sendiri? Kamu yang dewasa masih bisa menjaga diri sendiri, sedangkan anak kita harus selalu aku pantau, disuapi, digantikan popok, karena kita memang tidak ada pembantu”
Kemudian sang istripun terdiam.
“Sekarang jawablah, setidaknya untuk yang terakhir, apakah semua yang aku lakukan untukmu dan anak kita bukanlah cinta? Tidak…menurutku itulah wujud dari cintaku padamu, juga anak kita”
Sang istri menangis berlinang air mata, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari suaminya, karena dalam hatinya yang terdalam dia tau betapa suaminya itu sangat mencintainya.
Sesaat sang istripun memeluk suaminya dengan erat, sambil berbisik “Maafkan aku…”
Terkadang cinta itu tidak harus diungkapkan dengan perkataan, namun dengan perbuatan.