-->

Inspirasi Kehidupan : Mencari Kebahagiaan

MENCARI KEBAHAGIAAN

Seorang pengusaha muda dengan terburu-buru mengendarai mobilnya, setelah beberapa saat yang lalu ia menerima telepon dari istrinya. Sesampainya ia didepan rumahnya yang cukup mewah, istrinya keluar dengan dandanan yang rapi, berjalan dengan tergopoh-gopoh.

"Ayo Pa, langsung aja kita ketoko perhiasan itu, Mama nggak suka model kalung yang Papa belikan itu, ini bukan selera Mama, lagian Papa kalo mau beliin tanya Mama dulu dong!" Kata istrinya sambil membuka pintu mobil dan langsung duduk disebelah suaminya.

"Padahal itu Papa belinya mahal lho Ma, kirain Mama senang dengan pemberian Papa" Jawab suaminya dengan nada agak kecewa.

Kemudian mereka melaju kesebuah toko perhiasan yang terbesar yang ada disebuah mall dikota itu. Setelah kurang lebih 2 jam bolak balik menimbang-nimbang beberapa kalung yang indah-indah, akhirnya sang istri menentukan pilihannya, ternyata harganya lebih mahal dari kalung pertama yang dibelikan suaminya, karena memang dia punya banyak uang, akhirnya istrinyapun mendapat apa yang dia inginkan.

Ketika mereka sampai dirumah, anak mereka satu-satunya sudah duduk menunggu disofa. Setelah melihat orangtuanya datang, dia segera berlari menyambut mereka.

"Papa, keranjang sepeda Rani rusak, besok belikan yang baru ya, seperti sepeda punya Alena" Rajuk anak itu sambil bergelayutan ditangan Papanya.

"Papa baru beli sepeda itu kan sebulan lalu, katanya itu sepeda impian kamu..." Jawab Papanya
"Pokoknya Rani mau sepeda baru, Rani sudah bosan sama sepeda yang ini Papa" Sahut anaknya sambil merengut. Papanya hanya tersenyum kecut.

"Sudahlah Pa, cuma sepeda aja kok ribut, besok tinggal beli kan beres" Bela Mamanya.
"Baiklah, besok Papa akan pulang cepat, kita beli sepeda ya" Akhirnya Papanya menyerah.
"Hore!! Trimakasih ya Pa.." Rani putrinya melonjak kegirangan. Pengusaha muda itupun tersenyum, tidak masalah aku beli seluruh duniapun, yang penting anak istriku bahagia. Ia bergumam dalam hati.

Keesokan harinya, pengusaha muda itu pulang lebih awal dari kantornya, rencananya ia akan membawa anak dan istinya untuk membeli sepeda baru, sekalian dia akan mengajak makan malam orang-orang yang dicintainya itu.

Setelah mereka sampai ditoko sepeda, Rani putinya dengan semangan memilih sepeda yang terpajang rapi, istrinya duduk sambil agak merengut.

"Aku nyesel deh Pa, pilih kalung yang kemaren itu, masa kata temenku tadi pagi, itu kalung modelnya sudah ketinggalan jaman, aku jadi males pakenya, besok jual lagi ya Pa, kita beli lagi yang baru" Kata istrinya antusias. Pengusaha muda itupun terdiam, dia kira dengan membelikan kalung yang sesuai dengan pilihan istrinya, akan membuat istrinya selalu tersenyum dan bahagia, ternyata tidak juga, kalung yang mahalpun masih bisa membuat wajah istrinya merengut.

Dalam perjalanan pulang, setelah mereka makan malam disebuah restoran mewah, sang anak kembali merajuk.
"Tadi sepedanya nggak ada yang seperti Alena Pa, nanti pokoknya kalo besok Rani sudah bosan, Rani mau yang seperti Alena"
"Lho...itukan kamu yang pilih Nak, tadi katanya sepeda ini lebih bagus dari punya Alena..." Sahut Papanya kecewa. Dia pikir malam ini dia bisa membuat anak istrinya bahagia, ternyata tidak juga. Pengusaha muda itu merasa sangat sedih, dia merasa gagal membahagiakan anak dan istrinya.

Sore itu sepulang dari kantor, tidak seperti biasanya pengusaha muda itu membawa mobilnya dengan lambat. Pikirannya agak kusut membayangkan saat dirumah nanti, istrinya akan mengajak lagi ketoko perhiasan dan anaknya akan kembali merajuk. Padahal selama ini dia sudah berusaha memenuhi semua permintaan anak istrinya, tapi tetap tidak ada kepuasan diwajah mereka.

Tiba-tiba dipinggir jalan dekat sebuah bengkel motor, dia melihat Udin, sekuriti yang bekerja diperusahaannya. Pengusaha muda itupun kemudian memarkirkan mobilnya ditepi jalan, lalu menghampiri Udin sekuritinya itu.

"Motormu kenapa Din? mogok?" Tanya Pengusaha itu, Udin terkejut melihatnya, disitu juga ada seorang ibu muda dan balitanya, mereka adalah istri dan anak Udin.

"Eh...pak Robby, kok disini pak, ini kenalin istri saya dan anak saya" Kemudian mereka menyalami pengusaha itu dengan hormat.

"Ini tadi bannya bocor pak, udah mau selesai ditambal, tadinya kami mau makan bakso diwarung bakso pinggir jalan situ, eh baru mau sampe kok malah kempes ban" Lanjut Udin. Pengusaha itu tersenyum, kemudian melihat anak yang digendongan istri Udin tersenyum gembira, wajah istri Udin pun juga kelihatan sangat senang.

"Kalian tiap sore jalan-jalan?" Tanya Pengusaha itu. Udin tersenyum agak malu.
"Ini lho Pak, tadi kan Mas Udin baru dapat gajian, biasanya kalo gajian ya dia ngajak makan bakso, sambil beli sesuatu buat si kecil" Istri Udin menjelaskan. Pengusaha itu terperangah. Sesederhana itukah bisa membuat keluarga bahagia? walaupun hanya sebulan sekali jalan-jalan. Dia yang hampir tiap malam mengajak anak istrinya jalan tidak bisa membuat mereka terus bahagia, selalu tidak puas, selalu kurang.

"Nanti kalian mau beli apa buat si kecil?" Tanya pengusaha itu.
"Mau beli sepeda roda tiga tapi yang bekas Pak, ditoko barang bekas dekat pasar baru, biasanya dia main pake sepeda tetangga, keliatannya kok seneng banget, kalo punya sendiri kan lebih puas mainnya, begitu Pak" Cerita Udin. Pengusaha itu tertegun dengan keluguan dan kesederhanaan Udin, yang mampu membahagiakan anak istrinya dengan cara sederhana. Diam-diam hatinya sangat malu.

"Berapa harga sepedanya? kok nggak beli yang baru saja?" Sambung pengusaha itu penasaran.
"Harganya 75 ribu Pak, sisanya kan buat bayar kontrakkan sama cicilan motor, terus masih ada lebih ya buat makan hari-hari....eh motornya sudah selesai Pak, kami pamit ya Pak" Jawab Udin polos.

Pengusaha itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Kemudian diberikan kepada Udin, Udin dan istrinya kelihatan kaget.
"Uang apa ini Pak?"
"Uang untuk beli sepeda baru buat anakmu Din, trimakasih ya, sudah memberi saya pencerahan hari ini, dalam banyak hal kamu lebih unggul dari saya Din, saya juga mau pergi untuk memberikan anak dan istri saya kebahagiaan yang sesungguhnya, seperti kamu sekarang Din" Kemudian pengusaha itu segera pergi lalu dengan cepat mengendarai mobilnya. Udin dan istrinya saling memandang satu sama lain, kemudian tersenyum bahagia.

Uang yang banyak, harta yang berlimpah tidak bisa memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan itu adalah wujud rasa syukur yang ada didalam hati yang memancar keluar. Oleh ketulusan dan kesederhanaan, bukan dengan benda-benda material, karena pada dasarnya manusia tidak pernah puas dengan hal apapun.